https://journal.sttpadonaybatu.ac.id/index.php/YJTBR/issue/feedYADA : Jurnal Teologi Biblika dan Reformasi2026-06-08T05:32:53+00:00Mareks Joseph, M.Thmareks22fritz@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;"><strong>YADA: Jurnal Teologi Biblika dan Reformasi</strong> is a journal that accommodates biblical, theological, historical, practical and didactic mission approaches with the principle of integration of faith and science, in order to build an approach that is relevant to the practical needs of Christians in particular and society (public space) in general, as a field of service community for the extended family of the STTPA academic community.</p> <p style="text-align: justify;">This publication concern includes studies of: <br /> (1) Biblical studies <br /> (2) Theological Studies <br /> (3) Historical studies <br /> (4) Apologetic studies <br /> (5) Hermeneutic studies</p>https://journal.sttpadonaybatu.ac.id/index.php/YJTBR/article/view/94Studi 1 Timotius 4:1-16 untuk Memberikan Pemahaman bagi Hamba Tuhan dalam Menghadapi Ajaran Sesat2026-05-22T05:04:52+00:00Ratnawati Zalukhuratnawatizalukhu@gmail.com<p>Masalah ajaran sesat sudah ada sejak kekristenan muncul hingga masa kini. Ajaran sesat bisa <br>dikatakan seusia dengan hadirnya kekristenan. Pengertian ajaran sesat yang dimaksud dalam <br>artikel ini adalah ajaran yang menekankan pemahaman iman Kristen secara berat sebelah <br>sehingga teologi dan praktek kesalehannya pada umumnya membengkokan kebenaran Injil. <br>Bahaya ajaran sesat merupakan ancaman bagi gereja, teolog juga jemaat. Maka dalam artikel <br>ini diuraikan dampak-dampak yang akan terjadi pada orang percaya jika hamba Tuhan tidak <br>memiliki pemahaman yang benar dalam menghadapi ajaran sesat. Dampak-dampak tersebut <br>antara lain: pertama, jemaat yang digembalakannya akan tersesat. Kedua, jemaat yang <br>gembalakannya tidak mengalami pertumbuhan secara rohani. Ketiga, jemaatnya akan <br>meninggalkan Kristus. Dampak-dampak tersebut, diharapkan dapat diatasi melalui studi 1 <br>Timotius 4:1-16, karena dalam teks ini ada prinsip-prinsip rohani yang juga bisa diaplikasikan <br>oleh hamba Tuhan masa kini dalam menghadapi ajaran sesat. Prinsip tersebut adalah, <br>seorang hamba Tuhan harus mengajarkan ajaran yang benar, memperhatikan pertumbuhan <br>iman jemaat, mengawasi diri sendiri dan pengajarannya. Di bagian akhir tesis ini diuraikan <br>kesimpulan serta saran yang diberikan bagi para hamba Tuhan masa kini, berdasarkan hasil <br>penelitian dari teks ini. Sehingga studi 1 Timotius 4:1-16 berguna untuk memberi pemahaman <br>bagi hamba dalam Tuhan menghadapi ajaran sesat. Tulisan ini menggunakan riset kualitatif <br>dengan metode eksegese untuk memahami teks 1 Timotius 4:1-16.</p>2026-05-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 sttpa admin; Ratnawati Zalukhuhttps://journal.sttpadonaybatu.ac.id/index.php/YJTBR/article/view/97Pentingnya Konfesional Lutheran sebagai Ketahanan Gereja di Era Disrupsi Spiritual 2026-05-22T06:04:21+00:00Supriyantosupriantonio68@gmail.comIndra Jaya Saputrsindrasaputra371@gmail.com<p>Gereja-gereja Lutheran di Indonesia dan dunia menghadapi gelombang disrupsi <br>spiritual yang semakin intens. Disrupsi ini ditandai oleh proliferasi spiritualitas hibrida, <br>sinkretisme teologis, dan erosi identitas eklesiologis yang berlangsung secara perlahan <br>namun nyata. Artikel ini mengkaji pemahaman konfesional Lutheran sebagaimana tersimpan <br>dalam Buku Konfesi (Book of Concord, 1580) sebagai fondasi ketahanan teologis yang relevan <br>bagi gereja di era kontemporer. Melalui metode penelitian pustaka yang berfokus pada <br>dokumen-dokumen gereja Lutheran, artikel ini menganalisis Pengakuan Augsburg, <br>Katekismus Besar dan Kecil Luther, serta Formula Konkord. Temuan menunjukkan bahwa <br>dokumen-dokumen konfesional ini memuat kerangka teologis yang koheren dan <br>komprehensif untuk menghadapi tantangan relativisme doktrin, pasar spiritualitas <br>kontemporer, dan hilangnya identitas komunal iman. Ketahanan gereja, demikian artikel ini <br>berargumen, bersumber bukan pada kemampuan adaptasi programatik semata, melainkan <br>pada kedalaman akar konfesional yang memungkinkan gereja mengenal dirinya sendiri, <br>mempertahankan integritas injil, dan menavigasi lanskap religius yang kompleks dengan <br>kejernihan teologis.</p>2026-05-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 sttpa admin; Supriyantohttps://journal.sttpadonaybatu.ac.id/index.php/YJTBR/article/view/95Integrasi Teologi Kristen dan Pendekatan Klinis dalam Penanganan Dissociative Identity Disorder2026-05-22T05:48:56+00:00Stefani Hatimurahstefanikupang@gmail.com<p>Dissociative Identity Disorder (DID) adalah kondisi kejiwaan yang ditandai oleh kehadiran dua <br>atau lebih identitas yang berbeda dalam diri seorang individu sebagai respons terhadap <br>trauma berkepanjangan sejak masa kanak-kanak. Meskipun literatur klinis tentang DID telah <br>berkembang dengan cukup pesat, integrasi yang bermakna antara pendekatan klinis dan <br>teologi Kristen dalam konteks pelayanan jemaat masih sangat terbatas. Tinjauan pustaka <br>sistematis ini mengkaji literatur yang diterbitkan antara tahun 2011 dan 2025 yang membahas <br>DID dari sudut pandang klinis, pastoral, dan teologis. Sebanyak dua puluh tiga sumber <br>primer dipilih melalui proses seleksi berbasis kriteria yang mengacu pada pedoman PRISMA <br>(Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Hasil tinjauan <br>menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, terdapat kesenjangan yang signifikan antara <br>perkembangan literatur klinis tentang DID dan respons teologi pastoral terhadapnya; kedua, <br>integrasi model tiga fase penanganan trauma dengan sumber daya spiritual menghasilkan <br>pendekatan yang lebih holistik dan pastoral; dan ketiga, komunitas jemaat dapat menjadi <br>agen pemulihan yang sangat efektif bila diperlengkapi dengan pemahaman yang tepat. <br>Artikel ini menutup dengan kerangka integratif praktis untuk konselor Kristen dan <br>pemimpin pastoral.</p>2026-05-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 sttpa admin; Stefani Hatimurahhttps://journal.sttpadonaybatu.ac.id/index.php/YJTBR/article/view/98Kristologi Kolose 1:15-23 sebagai Pola Apologetika terhadap Filsafat Asketis dan Proto-Gnostisisme2026-06-08T05:32:53+00:00Umas Tabuniumastabuni4@gmail.com<p>Artikel ini mengkaji fungsi apologetis Kristologi dalam Kolose 1:15-23 terhadap ancaman filsafat asetis <br>dan proto-Gnostisisme yang melanda komunitas Kolose pada abad pertama Masehi. Berbeda dari kajian <br>sebelumnya yang cenderung mendekati teks ini dari perspektif teologi dogmatis, penelitian ini <br>menempatkan eksegesis teks Yunani Koine sebagai fondasi analisis utama. Metode yang digunakan <br>adalah analisis semantik leksikografis terhadap istilah-istilah Kristologis kunci seperti eikon, prototokos, <br>dan pleroma, ditambah kajian terhadap struktur himne dan logika retoris argumentasi Paulus. <br>Penelitian ini menemukan bahwa Paulus membangun argumentasi Kristologis berlapis yang secara <br>sistematis menggugurkan premis-premis utama filsafat dualisme kosmis di Kolose, termasuk hierarki <br>mediator rohani, penolakan terhadap tubuh jasmani, dan klaim kepenuhan di luar Kristus. Setiap <br>pernyataan Kristologis dalam teks ini merespons secara presisi terhadap satu titik klaim filsafat lawan. <br>Hasilnya adalah dokumen apologetika yang tidak sekadar reaktif, melainkan proaktif dalam membentuk <br>imajinasi teologis komunitas berdasarkan keunggulan mutlak Kristus atas seluruh kosmos. Kontribusi <br>artikel ini terletak pada integrasi analisis linguistik Yunani dengan pembacaan apologetis yang <br>komprehensif, serta relevansinya bagi pengembangan apologetika kontemporer yang berakar pada <br>Kristologi biblikal.</p>2026-06-08T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Umas Tabunihttps://journal.sttpadonaybatu.ac.id/index.php/YJTBR/article/view/96Studi Eksegetis Ulangan 6:4–9 dan Implikasinya bagi Guru Sekolah Minggu 2026-05-22T05:58:55+00:00Noviani Yunita Sarinvnyunita@gmail.com<p>Penelitian ini membahas eksegese Kitab Ulangan 6:4–9 dan implikasinya bagi guru <br>yang mengajar Sekolah Minggu. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya <br>pendidikan iman anak di tengah perkembangan zaman dan arus globalisasi yang membawa <br>berbagai pengaruh terhadap kehidupan anak-anak. Gereja, melalui pelayanan Sekolah <br>Minggu, memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai iman, moral, dan kasih <br>kepada Allah sejak dini. Oleh karena itu, guru Sekolah Minggu dituntut tidak hanya mampu <br>mengajar, tetapi juga menjadi teladan dan menggunakan metode pengajaran yang tepat serta <br>relevan bagi anak-anak. <br>Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi <br>pustaka (library research) dan studi eksegetis terhadap teks Ulangan 6:4–9. Studi pustaka <br>dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber, seperti Alkitab, buku<br>buku teologi, jurnal, dan literatur yang berkaitan dengan pendidikan Kristen serta metode <br>pengajaran Alkitabiah. Sementara itu, pendekatan eksegetis dilakukan melalui kajian <br>konteks, genre, gramatikal, dan interpretasi teks untuk memahami makna asli Ulangan 6:4–9 <br>secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ulangan 6:4–9 menegaskan <br>pentingnya mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan, serta mengajarkan <br>firman Tuhan secara terus-menerus kepada generasi berikutnya. Pengajaran tersebut tidak <br>hanya bersifat teoritis, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan hidup dan pembiasaan <br>dalam kehidupan sehari-hari. <br>Berdasarkan hasil eksegese, penelitian ini menyimpulkan bahwa guru Sekolah <br>Minggu perlu memiliki komitmen rohani, keteladanan hidup, dan metode pengajaran yang <br>kreatif, inovatif, serta sesuai dengan perkembangan anak. Guru juga harus mampu <br>melibatkan anak secara aktif dalam proses pembelajaran agar firman Tuhan dapat dipahami, <br>dihayati, dan diterapkan dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, pelayanan Sekolah <br>Minggu dapat menjadi sarana yang efektif dalam membentuk iman dan karakter anak sesuai <br>dengan kehendak Allah.</p>2026-05-22T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 sttpa admin; Noviani Yunita Sari